Kini fotografi secara luas telah diakui sebagai seni, ditampilkan di museum, dihargai oleh kolektor, dibahas oleh para kritikus, dan dipelajari dalam kursus sejarah seni. Tetapi pengakuan foto sebagai karya seni sempat mendapat beberapa pertentangan. Hal ini tak terlepas dari kenyataan bahwa fotografi menggunakan mesin.

Selain itu, pertentangan terjadi karena banyak yang berpendapat bahwa fotografi tidak membutuhkan kreativitas atau imajinasi karena subjek fotografi adalah “siap pakai” dan tidak memerlukan manipulasi atau kontrol oleh fotografer. Namun beberapa alasan di bawah ini meruntuhkan pendapat itu.

Sebuah kamera, tidak peduli berapa banyak fitur otomatis yang dimilikinya adalah benda tak bernyawa dan tidak bisa menghasilkan karya seni sampai seseorang menggunakannya. Seorang fotografer menciptakan gambar dengan proses seleksi, melihat melalui jendela bidik kamera harus memutuskan apa yang akan dimasukkan dan apa yang harus diabaikan dari tempat kejadian.

Baca juga  Foto dalam waktu

Mereka memilih jarak dari mana untuk mengambil gambar dan sudut mana yang tepat, yang tentunya paling sesuai dengan tujuan mereka. Mereka juga sabar menunggu sampai mendapatkan cahaya yang tepat atau mungkin mengambil keputusan sepersekian detik, tetapi hasil akhir tetap berpegang pada rasa seorang fotografer. Mereka dapat membekukan gambar yang bergerak atau merekamnya sebagai gambar yang kabur (blur).

Fotografer juga dapat mengubah warna dalam suatu gambar dengan pilihan mereka. Alasan-alasan tadi yang pada akhirnya membuat fotografi juga dianggap sebuah karya seni.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *